PACITAN — Kawasan wisata alam Song Meri di Dukuh Nitikan, Desa Sukoharjo, Pacitan, bergemuruh dalam harmoni budaya dan pelestarian lingkungan. Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, ratusan warga dari berbagai elemen berkumpul menggelar pertunjukan kolosal Thethek Melek yang dilanjutkan dengan Ritus Entas-Entas.
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 15.30 WIB ini melibatkan sekitar 500 hingga 600 partisipan. Mereka terdiri atas masyarakat Desa Sukoharjo, pelajar dari wilayah Pacitan Kota dan Ngadirojo, berbagai sanggar seni, hingga komunitas lokal.
Suasana sore hari menjadi hidup saat para peserta secara bersama-sama menabuh pacul dan bambu. Bunyi tabuhan ini bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan wujud simbolis dan doa bersama agar bumi serta ketersediaan pangan senantiasa terlindungi.
Memasuki malam hari, rangkaian acara berlanjut ke Ritus Entas-Entas yang berlangsung khidmat. Ritual ini menjadi sarana refleksi tradisi melalui laku memetri-yakni merawat dan menghormati alam-serta wujud syukur atas hasil bumi yang dibagikan bersama dalam bentuk jimpitan padi, aneka sayuran, empon-empon, dan produk pertanian lainnya.
Sekretaris Daerah (Sekda) Pacitan, Maulana Heru Wiwoho Supadi Putro, yang hadir langsung dalam acara tersebut mengapresiasi nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Menurutnya, tradisi Entas-Entas adalah pengingat penting tentang arti rasa syukur, semangat guyub rukun, serta penghormatan kepada alam sebagai sumber utama kehidupan.
”Bumi tidak pernah minta balasan kepada manusia, tapi bumi membutuhkan penghormatan dan perawatan supaya keseimbangan alam tetap terjaga dan bisa memberi penghidupan untuk generasi seterusnya,” ujar Heru di lokasi kegiatan.
Melalui kegiatan kolosal ini, masyarakat Pacitan tidak hanya melestarikan warisan budaya leluhur, tetapi juga memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan demi keberlanjutan masa depan. (Mj)









