PACITAN, – Hari demi hari berjalan, para pedagang diarea Pancer Dorr bagian barat nampaknya masih tetap eksis, sampai sekarangpun tidak kenal lelah menjajakan barang dagangan kulinernya disetiap hari bahkan ikut juga meramaiakan kegiatan ditahun baru kemarin bersama Ketua DPRD Pacitan dan rombongan bekerjasama Paguyuban pedagang mengadakan hiburan, tentu berpengaruh dengan wisatawan.
“Sebelumnya paguyuban juga mengadakan lomba karaoke yang didukung beberapa stake holder termasuk dr Farkim dan lain – lain”
Lain halnya Heri saat detemui di warungnya Pancer Dorr, Senin (19/1/2026) dan ditanya soal mengapa kok sampai berjualan kuliner di Pancer Dorr, dirinya lalu menceritakan kronologinya ;
“Memang tepat pertanyaan itu. ” jawabnya.
Saya jualan dipancer ini ada beberapa alasan,
“Pertama, melihat kesempatan kedepanya untuk mengenalkan kuliner ditempat ini yang berbau pembangunan pariwisata”
Kedua, saya yakin kunjungan wisata kususnya diarea Pancer Dorr akan meningkat.” katanya.
Lebih lanjut Heri menyampaikan, “Kita sudah membangun sinergi dan harmonisasi baik kepada paguyuban maupun kepada pemerintah. Pedagang itu rakyat punya bapak namanya Bupati kok. ” ketusnya.
“Kan gitu, karena secara ekonomi rakyat itu lagi susah, bayangkan untuk biaya anak – anak sekolah, makan dan kebutuhan lainnya”
” Disisi lain saya ingin memunculkan akik lagi dari warung ini dan akan saya pajang sambil mengembangkan Skil wiraswasta di wisata kuliner”
Sebetulnya saya sudah capek malang melintang, namun sebelumnya saya ceritakan ya soal pengalaman, sekedar pengalaman saja maksut saya,
“Pada tahun 1990 usaha kayu di siak raya riau,. lalu di PO Bis Wasis berlanjut PO Handoyo sambil bisnis bunga Antorium diantara tahun 2005-2008. Saya kerja Sub Kontraktor juga pernah ikut PT Bijak & PT Sarindo Teknologi membawahi 2000-3000 karyawan dari Pacitan”
“Begitu juga kerja di tambang Emas Manado tahun 2013-2014, kemudian menggeluti batu akik sambil pemasaran akik di seluruh indonesia 2014 – 2016 di Citraland yang kemudian menjadi Icon Pacitan sehingga secara tidak langsung menjadi ajang promosi pariwisata Kabupaten Pacitan itu sendiri”
“Kemudian bisnis akik dan ketika gaung akik mulai mereda karena covid saya kembali kerja tambang Emas. Setelah kerja di tambang selesai lalu saya membuka inovasi baru seperti pembuatan vitamin burung, perbulan omset saya lumayan bisa mencapai 40.000.000 perbulan, dari pengalaman itu semua saya ingin lebih damai beralih menjadi pedagang kuliner. ” ungkapnya.
“Saya berterima kasih kepada Sekda yang menyampaikan kepada salah satu pengurus paguyuban ini tentang pandangan penataan pedagang “sak jane pedagang kui yen ditoto apik ” ( sebetulnya pedagang itu kalau ditata akan lebih baik). ” kata Herry Nurcahyono Puromo Putro yang akrab dipanggil Heri merupakan yunior Heru PJP.
Dirinya tidak mau berandai andai, memang sudah menjadi niatnya menggeluti dunia kuliner karena ada dorongan hati yang kemudian memilih tempat di Pancer Dorr dan berharap masyarakat, lingkungan kususnya pedagang menjadi guyub sehingga tidak bertentangn dengan arti Paguyuban itu sendiri. (Mj)








